SUMBER DAYA KONSUMEN DAN PENGETAHUAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan   populasi   manusia   semakin   tinggi   mengakibatkan
peningkatan ekstraksi sumber daya kepentingan produksi. Ekstraksi sumber daya
dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu lama akan membuat sumber daya
yang ada kian menipis. Selain itu pula, muncul permasalahan lingkungan terkait
dengan polusi dan limbah yang dihasilkan dari proses manufaktur maupun proses
konsumsi produk oleh konsumen (Anityasari, 2008). Kondisi ini memunculkan
konsep sustainable development sebagai kerangka untuk mengatasi dan menjaga
keberlanjutan kehidupan di masa mendatang. Dengan sustainable development,
diharapkan akan dicapai efisiensi penggunaan sumber daya yang berlebihan serta
minimasi   dampak-dampak   kritis   lingkungan   sehingga   dapat   menjamin
keberlangsungan kehidupan generasi mendatang (French, 2008).

Sustainable development dalam konteks manufaktur diwujudkan dalam
sustainable manufacturing. Sustainable manufacturing dengan konsepnya “doing
more with less” mengarahkan pabrikan agar mengembangkan produk yang minim
penggunaan  sumber  daya  dan  dapat  mereduksi  environmental  impact  selama
useful life hingga produk end-of-life  (Kara et al.,  2008). Konsep ini mengajak
pabrikan    untuk    mempertimbangkan    aspek-aspek    lingkungan    dalam
pengembangannya.  Terdapat  beberapa  strategi  yang  dapat  dilakukan,  salah
satunya adalah dengan mengevaluasi potensi produk untuk reuse (Kaebernick et al., 2003).

Reuse merupakan salah satu strategi product recovery dalam konsep
sustainability (Anityasari  dan  Kaebernick, 2008).  Reuse  merupakan  proses  mengambil  kembali  produk  yang  telah  digunakan,  kemudian  dilepas  rakit,
disortir, dibersihkan, lalu diuji kembali dan dinilai kualitas dan keandalannya. Jika
komponen   lepas   rakit   perlu   diperbarui,   maka   diperlukan   aktivitas
remanufacturing.  Tetapi  jika  kualitas  dan  keandalan  komponen  masih  dapat ‘diterima’  atau  dapat  digunakan  kembali,  maka  bisa  dirakit kembali  menjadi
produk baru. Reuse merupakan hirarki tertinggi dalam product recovery (Amelia
et  al., 2009).  Pada  akhir  masa  penggunaan,  produk  dapat  secara  langsung
digunakan (reuse).  Part  atau  komponen  yang  tidak  mengalami  kemerosotan
fungsi, dapat di-reuse sebagai komponen untuk selanjutnya dirakit ulang menjadi
produk   baru.   Kondisi   ini   memungkinkan   adanya   penghematan   energi,
pengurangan emisi, penghematan biaya produksi dan penghematan penggunaan
material.

Terdapat beberapa penelitian tentang reuse dalam aspek water reuse
maupun yang terkait dengan produk reuse. Namun demikian, belum ditemukan
penelitian  yang  mengulas  tentang  perilaku  konsumen  terhadap  produk  reuse.
Madwal dan Tarazi (2002), Hochstrat et al. (2006), Miller (2006), Huertas et al.
(2008) membahas tentang kemungkinan penggunaan water reuse. Demikian pula
dengan March et al. (2004), Al-Hamaiedeh dan Bin (2010) yang meneliti tentang
kemungkinan penggunaan greywater reuse. Tsai dan Chou  (2004) membahas
tentang kebijakan yang dibangun pemerintah Taiwan untuk memberikan motivasi
terhadap industrial waste reuse dan pencegahan polusi di Taiwan. Khan dan
Gerrard  (2006) meneliti tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pihak
pemerintah pengelola water reuse dalam memberi keyakinan tentang pentingnya
implementasi water reuse.

Sedangkan penelitian yang terkait dengan produk reuse dijumpai dalam
penelitian  tentang  peran  warranty  dan  reliability  dalam  penilaian  reuse
(Anityasari  et  al., 2008;  Anityasari  dan  Kaebernick, 2008).  French (2008)

mengulas tentang keberhasilan program reuse yang melibatkan pula distributor
dan  konsumen.  Amelia  et  al. (2009)  meneliti  tentang  kemungkinan  reuse

komponen otomotif produsen lokal di Malaysia. Beers et al. (2009) membahas tentang  perilaku komunitas Mexico Utara dalam memilah dan memilih produk yang bisa di-reuse dan produk yang bisa di-recycle untuk produk kaca, alumunium, kertas, pakaian, dan besi. Huang et al. (2006) meneliti tentang pemahaman publik di Cina terhadap label lingkungan dan produk ramah lingkungan. Demikian pula dengan Nnorom et al. (2009) yang mengulas tentang kesediaan masyarakat Nigeria untuk berpartisipasi dalam recycle limbah elektronik khususnya ponsel.

Penelitian-penelitian  di  atas  menunjukkan  terdapat  peluang  dalam
implementasi reuse, namun masih kecil kemungkinan produk reuse diterima oleh
konsumen.  Anityasari (2008)  dalam  penelitiannya  menyatakan  bahwa  masih

terdapat  hambatan  dalam  implementasi  reuse,  seperti  ketidakpastian  kualitas
produk  reuse  dan  rendahnya  penerimaan  konsumen  terhadap  produk  reuse.
Padahal strategi reuse memiliki konsep “as good as new” yang mestinya dapat
menarik  minat  konsumen  terhadap  reuse,  namun  tidak  demikian  adanya.
Sedangkan keberhasilan strategi reuse sangat tergantung pada penerimaan pasar
terhadap produk reuse. Penerimaan pasar ini dibentuk oleh penerimaan konsumen,
perilaku dan perspektif konsumen terhadap produk reuse. Jika konsumen belum
menerima  produk  reuse,  maka  tidak  akan  terbentuk  demand  produk  reuse.
Akibatnya,  justifikasi  kelayakan  ekonomi  produk  reuse  tidak  akan  terbentuk
(Anityasari   dan   Kaebernick, 2008).   Padahal   Matsumoto (2009)   dalam

penelitiannya menunjukkan potensi besar bisnis reuse, seperti yang sudah banyak berkembang di Jepang.

peluang  reuse  produk  anorganik  seperti  sisa  bauksit  dan  gypsum. Demikian pula dengan Yoshida dan Terazono  (2010) yang membahas tentang reuse televisi bekas yang diekspor Jepang ke Pilipina.

Penelitian  yang  terkait  dengan  perilaku  konsumen  ditemukan  dalam
penelitian yang dilakukan oleh Corral-Verdugo (2003) yang membahas tentang perilaku komunitas Mexico Utara dalam memilah dan memilih produk yang bisa di-reuse dan produk yang bisa di-recycle untuk produk kaca, alumunium, kertas, pakaian, dan besi. Huang et al. (2006) meneliti tentang pemahaman publik di Cina terhadap label lingkungan dan produk ramah lingkungan. Demikian pula dengan Nnorom et al. (2009) yang mengulas tentang kesediaan masyarakat Nigeria untuk berpartisipasi dalam recycle limbah elektronik khususnya ponsel.

Penelitian-penelitian  di  atas  menunjukkan  terdapat  peluang  dalam
implementasi reuse, namun masih kecil kemungkinan produk reuse diterima oleh
konsumen.  Anityasari (2008)  dalam  penelitiannya  menyatakan  bahwa  masih

terdapat  hambatan  dalam  implementasi  reuse,  seperti  ketidakpastian  kualitas
produk  reuse  dan  rendahnya  penerimaan  konsumen  terhadap  produk  reuse.
Padahal strategi reuse memiliki konsep “as good as new” yang mestinya dapat
menarik  minat  konsumen  terhadap  reuse,  namun  tidak  demikian  adanya.
Sedangkan keberhasilan strategi reuse sangat tergantung pada penerimaan pasar
terhadap produk reuse. Penerimaan pasar ini dibentuk oleh penerimaan konsumen,
perilaku dan perspektif konsumen terhadap produk reuse. Jika konsumen belum
menerima  produk  reuse,  maka  tidak  akan  terbentuk  demand  produk  reuse.
Akibatnya,  justifikasi  kelayakan  ekonomi  produk  reuse  tidak  akan  terbentuk
(Anityasari   dan   Kaebernick, 2008).   Padahal   Matsumoto (2009)   dalam

penelitiannya menunjukkan potensi besar bisnis reuse, seperti yang sudah banyak berkembang di Jepang.

1.2  Rumusan Masalah

Seperti  yang  telah  dijelaskan  pada  latar  belakang,  yang  menjadi permasalahan utama dalam penelitian ini adalah sejauh mana konsumen menerima produk reuse. Pada penelitian ini akan diteliti faktor apa saja mempengaruhi penerimaan  konsumen  terhadap  produk  reuse  dan  bagaimana  model  yang merepresentasikan hubungan antar faktor tersebut

1.3  Tujuan Penelitian

Berdasarkan  rumusan  masalah,  maka  tujuan  penelitian  ini  adalah menghasilkan  model  yang  menggambarkan  hubungan  consumer  acceptance terhadap  produk  reuse.  Dari  tujuan  ini,  ingin  digali  tentang  sejauh  mana konsumen  menerima  produk  reuse  melalui  model  struktural  yang  dibangun berdasarkan variabel-variabel yang sesuai dengan reuse.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sumber Daya Ekonomi

a. pengertian sumber daya ekonomi

Potensi sumberdaya ekonomi atau lebih dikenal dengan potensi ekonomi pada dasarnya dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki baik yang tergolong pada sumberdaya alam (natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya manusia yang dapat memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai modal dasar pembangunan (ekonomi) wilayahtingkat ketergantungan terhadap sumberdaya secara struktural harus bisa dialihkan pada sumberdaya alam lain. Misalnya, penggunaan energi sinar matahari, panas bumi, atau gelombang laut termasuk angin, akan dapat mengurangi ketergantungan manusia terhadap sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui.

b. sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui (non-renewable or exhaustible resources). Jenis sumberdaya ini pada dasarnya meliputi sumberdaya alam yang mensuplai energi seperti minyak, gas alam, uranium, batubara serta mineral yang non energi

– misalnya : tembaga, nikel,aluminium,dll.Sumberdaya alam jenis ini adalah sumberdaya alam dalam jumlah yang tetap berupa deposit mineral (mineral deposits) diberbagai tempat dimuka bumi. Sumberdaya alam jenis ini bisa habis baik karena sifatnya yang tidak bisa diganti oleh proses alam maupun karena proses penggantian alamiahnya berjalan lebih lamban dari jumlah pemanfaatannya.

c. sumberdaya alam yang potensial untuk diperbarui (potentially renewable resources). Kategori sumberdaya alam ini tergolong sumberdaya alam yang bisa habis dalam jangka pendek jika digunakan dan dicemari secara cepat, namun demikian lambat laun akan dapat diganti melalui proses alamiah

–                      misalnya ; pohon-pohon di hutan, rumput di padang rumput, deposit air tanah, udara segar dan lain-lain Sumberdaya alam ini keberadaannya harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam kerangka untuk mendorong, mempercepat dan menunjang proses pembangunan wilayah (daerah). Namun demikian penting untuk diperhatikan aspek ketersediaan termasuk daya dukungnya terhadap mobilitas pembangunan daerah, karena apabila sumberdaya alam dengan 3 kategori ini dimanfaatkan dengan tidak bijaksana dan arif maka sudah barang tentu stagnasi dan kemunduran dinamika pembangunan ekonomi wilayah akan semakin cepat menjelma atau merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan.Disamping komponen sumberdaya alam, pada saat ini peranan sumberdaya manusia (human resources) dalam konteks kegiatan pembangunan ekonomi termasuk pembangunan ekonomi daerah (wilayah) semakin signifikan. Faktor sumberdaya manusia ini telah menghadirkan suatu proses pemikiran baru dalam telaah teori-teori pembangunan ekonomi, yang menempatkan sumberdaya manusia sebagai poros utama pembangunan ekonomi baik dalam skala global, nasional maupun daerah. Strategi pembangunan ekonomi yang berbasis pada pengembangan sumberdaya manusia (human resources development) dianggap sangat relevan dan cocok dengan kondisi dan karakter pembangunan ekonomi terutama di negara-negara berkembang sejak era 80-an. Strategi pembangunan ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang pakar perencanaan pembangunan ekonomi berkebangsaan Pakistan yang bernama Mahbub Ul Haq yang pada saat itu menjadi konsultan Utama United Nation Development Programme (UNDP). Mahbub Ul Haq berpendapat bahwa pengembangan sumberdaya manusia harus dijadikan landasan utama dalam kebijakan pembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang, dan hal ini dianggap penting mengingat ketertinggalan negara-negara berkembang terhadap negara-negara industri maju dalam tingkat kesejahteraan ekonomi seperti kualitas dan standar hidup hanya akan dapat diperkecil manakala terjadi peningkatan yang sangat signifikan dalam pengembangan kualitas sumberdaya manusia.Dari pola pemikiran seperti diatas maka takaran peranan sumberdaya manusia dalam proses pembangunan ekonomi dalam konteks untuk mengurangi kesenjangan pembangunan ekonomi pada dasarnya harus dilihat dari aspek peningkatan kualitasnya. Dengan kualitas sumberdaya manusia yang semakin meningkat, akan dapat mendorong peningkatan produktivitas ekonomi sekaligus sebagai modal dasar untuk memacu pertumbuhan ekonomi.Bagi kebayakan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya sudah tergolong lebih maju, produktivitas sumberdaya manusia secara teknis telah dijadikan sebagai instrumen terpenting untuk mempertahankan pencapaian laju pertumbuhan ekonomi, sekaligus dalam upaya untuk memperkuat basis struktural perekonomiannya. Dalam era globalisasi, kualitas sumberdaya manusia yang handal akan sangat membantu suatu negara untuk memenangkan kompetisi atau persaingan dalam perekonomian global sekaligus dapat menjaga eksistensi negara tersebut dalam percaturan dan dinamika perekonomian dunia yang semakin kompetitif.

d.  Peranan Sumberdaya Ekonomi Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era otonomi daerah dewasa ini, kecepatan dan optimalisasi pembangunan wilayah (daerah) tentu akan sangat ditentukan oleh kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi (baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia). Keterbatasan dalam kepemilikan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang berkulitas dapat menimbulkan kemunduran yang sangat berarti dalam dinamika pembangunan ekonomi daerah. Konsekuensi lain yang ditimbulkan sebagai akibat terbatasnya kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi yang dimiliki daerah adalah ketidakleluasaan daerah yang bersangkutan untuk mengarahkan program dan kegiatan pembangunan ekonominya, dan situasi ini menyebabkan munculnya pula disparitas pembangunan ekonomi wilayah. Kondisi ini tampaknya menjadi tak terhindarkan terutama bila dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah dewasa ini.Dalam telaah teoritis, dengan sangat tepat Hadi dan Anwar (1996) yang banyak menganalisis tentang dinamika ketimpangan dan pembangunan ekonomi antar wilayah mengungkapkan bahwa salah satu penyebab munculnya ketimpangan pembangunan ekonomi antar wilayah di Indonesia adalah adanya perbedaan dalam karakteristik limpahan sumberdaya alam (resources endowment) dan sumberdaya manusia (human resources) disamping beberapa faktor lain yang juga sangat krusial seperti perbedaan demografi, perbedaan potensi lokasi, perbedaan aspek aksesibilitas dan kekuasaan (power) dalam pengambilan keputusan serta perbedaan aspek potensi pasar dengan pola analisis sebagaimana diilustrasikan diatas dapat digarisbawahi bahwa pengelolaan, ketersediaan, dan kebijakan yang tepat, relevan serta komprehensif amat dibutuhkan dalam kaitannya dengan percepatan proses pembangunan ekonomi daerah dan penguatan tatanan ekonomi daerah yang pada gilirannya dapat menjamin keberlanjutan proses pembangunan ekonomi dimaksud. Namun amat disayangkan, dinamika pelaksanaan pembangunan ekonomi wilayah (daerah) dalam era otonomi daerah dewasa ini, memiliki atau menampakkan suatu kedenderungan dimana daerah yang kaya akan sumberdaya alam lebih cepat menikmati kemajuan pembangunan bila dibandingkan dengan wilayah lain yang miskin akan sumberdaya alam, hal ini diperparah lagi dengan keterbatasan kualitas sumberdaya manusia. Apabila kondisi seperti ini terus berlanjut maka tidaklah terlalu mengherankan manakala issu tentang ketimpangan pembangunan antara wilayah (kawasan) yang merebak di akhir Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama yang lalu, kembali muncul dengan sosok yang semakin mengkhawatirkan.Sebagai ilustrasi, berikut ini dikutip pendapat seorang pakar yang banyak menyoroti tentang dinamika otonomi daerah : “.. negara Indonesia kaya akan sumberdaya alam, tetapi rakyatnya banyak yang miskin. Kenyataan paradoksal tersebut tentunya ada penyebabnya, antara lain karena lemahnya pengelolaan manajemen sumberdaya alam serta penguasaan oleh segelintir orang yang rakus. Seiring dengan semangat desentralisasi, sebagian besar kewenangan pengelolaan sumberdaya alam sudah diserahkan kepada daerah, termasuk kewenangan di daerah otoritas seperti kawasan kehutanan, kawasan pertambangan, kawasan pelabuhan dan lain sebagainya yang selama ini tidak tersentuh oleh kewenangan Daerah Kabupaten/ Kota (lihat pasal 129 UU Nomor 22 Tahun 1999). Bagaimana menggunakan sumberdaya alam untuk kepentingan rakyat banyak akan sangat tergantung pada kemauan politik (political will) dan tindakan politik (political action) dari pemerintahan daerah”. (Wasistiono, 2003)

2.2  Sumber Daya Sementara

Waktu menjadi variabel yang semakin penting dalam memahami perilaku konsumen. Karena konsumen mayoritas semakin mengalami kemiskinan akan waktu. Namun demikian ada suatu bagian waktu yang dihabiskan untuk kegiatan yang sangat pribadi yaitu waktu senggang. Sumber daya kognitifProduk yang diklasifikasikan menurut sifat waktu konsumen disebut barang waktu (time goods).

a. Barang yang Menggunakan Waktu

Produk yang memerlukan pemakaian waktu dala mengkonsumsinya. Contoh: Menonton TV, Memancing, Golf, Tennis (waktu Senggang) Tidur, perawatan pribadi, pulang pergi (waktu wajib)

b. Barang Penghemat Waktu

Produk yang menghemat waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu leluasa mereka. Contoh: oven microwave, pemotong rumput, fast food

2.3 Sumber Daya Kognitif

Pengertian sumber daya kognitif adalah kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme,

Periode sensorimotor

Menurut Piaget,bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:

Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan reflex. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan caracara baru untuk mencapai tujuan. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreatifitas

–          Tahapan praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan bahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

–          Tahapan operasional konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme(anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya.

–                    Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

–          Tahapan operasional formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif penawaran normal, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

–          Informasi umum mengenai tahapan-tahapan

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
Universal (tidak terkait budaya). Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi). Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif

–          Proses perkembangan

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengann burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.

Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label “burung” adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label “burung” adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

Mengukur Pengetahuan

Pengetahuan konsumen terdiri dari informasi yang disimpan di dalam ingatan. Pemasar khususnya tertarik untuk mengerti pengetahuan konsumen. Informasi yang dipegang oleh konsumen mengenai produk akan sangat mempengaruhi pola pembelian mereka. Di dalam Psikologi kognitif dijelaskan bahwa ada dua jenis pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif melibatkan fakta subjektif yang sudah diketahui. Pengetahuan deklaratif sendiri dibagi menjadi dua kategori, yaitu pengetahuan episodik (melibatkan pengetahuan yang dibatasi dengan lintasan waktu) dan pengetahuan semantik (mengandung pengetahuan yang digeneralisasikan dan memberi arti bagi dunia seseorang). Sedangkan pengetahuan prosedural mengacu pada pengertian bagaimana fakta ini dapat digunakan. Fakta ini juga bersifat subjektif dalam pengertian fakta tersebut tidak perlu sesuai dengan realitas objektif.

Contoh Kasus:

Seorang konsumen yang sedang menjalankan proses diet dan ingin memutuskan untuk membeli makanan ringan. Sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian, konsumen cenderung melihat ingredients atau komposisi yang terdapat dalam produk makanan ringan tersebut. Setelah memperoleh informasi yang positif terhadap produk tersebut, konsumen biasanya langsung mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari materi di atas yaiyu sumber daya konsumen dan pengetahuan dapat di simpulkan bahwa sumber daya konsumen penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Bagi kebayakan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya sudah tergolong lebih maju.

3.2 Saran

Untuk para calon usaha hendaknya mempelajari sumber daya konsumen agar kualitas sumberdaya manusia yang semakin meningkat, akan dapat mendorong peningkatan produktivitas ekonomi sekaligus sebagai modal dasar untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Untuk mahasiswa sebagai contoh membuat tulisan atau menyusun tulisan tentang perilaku konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

http://abduljabal18.blogspot.com/2009/12/sumber-daya-konsumen-dan-pengetahuan.html

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-14112-2508201008-Chapter1.pdf